Berita

Berita Pendidikan

(0 pemilihan)

Aceh Kembangkan Pertanian Full Organik Pilihan

Melalui kegiatan pertanian organik terpadu klaster tanaman pangan dan hortikultura, SMK-PP Negeri Saree Aceh bersama Bank Indonesia (BI) melaksanakan demplot Padi, Bawang merah dan Cabai merah.

Pertanian full organik ini dilaksanakan dengan memanfaatkan limbah padat dan cair. Kotoran Sapi diambil dengan cara dikandangkan, sehingga akan didapat kan sumber pupuk padat, cair dan sumber energi biogas.

Selanjutnya pupuk padat sapi tersebut difermentasikan dengan Mikroba Alfalfa (MA - 11). Metode ini dikenal dengan konsep pertanian organik integrated farming system, yaitu pertanian terpadu budidaya tanaman dengan pemanfatan limbah. Ternak sapi yang dipelihara dalam kawasan pertanian sebagai sumber bahan pupuk, sehingga bila diterapkan, mampu menekan biaya input dan dapat meningkatkan produksi pertanian.

Azanuddin Kurnia SP, MP, Sekretatis Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh mengatakan kegiatan ini untuk mengembangkan pangan sehat dan munculnya sumberdaya pertanian maju, mandiri dan modern bagi petani millenial. "Selain itu juga untuk mendukung program Gerakan Mandiri Pangan (Gampang) dan Aceh Troe", sambungnya.

Kepala SMK-PP Negeri Saree Muhammad Amin SP, MP mengatakan dengan kerjasama BI, yakni dengan dibangunnya laboratorium mini MA - 11, selain dapat menjadi sarana praktik siswa dan peningkatan kompetensi SDM guru/tenaga pendidik karena dilatih langsung oleh Bank Indonesia berstandarkan industri, juga membuka lapangan kerja baru untuk alumni dan petani milenial.

"Tidak hanya itu, lanjutnya juga lahirnya teaching factory/teaching farm secara terpadu", ujarnya.

Penemu MA - 11, DR. Nugroho mengaku senang dan bangga, karena dapat mengabdikan dirinya untuk negeri tercinta. "Laboratorium MA - 11 mini merupakan ke 39 di Indonesia" katanya. Dia berharap laboratorium ini dapat bermanfaat bagi sekolah dan petani milenial dalam mengembangkan kluster pertanian organik.

Dengan konsep pertanian full organik sambungnya, ternak dikandangkan untuk memungut kotorannya baik padat, cair ataupun biogas. "Bila ini dilaksanakan secara terpadu maka akan mendapatkan keuntungan dan mengurangi akan kemiskinan", terangnya.

Pimpinan Kanca BI Banda Aceh Achris Sarwani menjelaskan, kegiatan seperti ini dapat menjaga stabilitas ekonomi melalui pengembangan sektor pertanian, terutama untuk Padi, Cabai merah, Bawang merah dan juga ternak.

Melalui konsep pemanfaatan limbah yang sesuai SOP kata dia, modalnya kecil sementara produksi hasil tanaman tinggi. Sehingga akan mendapatkan keuntungan bagi petani yang pada gilirannya akan tersedia pangan yang cukup serta mengurangi angka kemiskinan.

Pengembangan pertanian organik harus sesuai dengan SOP sehingga dapat dikeluarkan sertifikasi organik. "Dengan kerjasama ini, harapannya dapat menjadi salah satu solusi mengatasi kelangkaan pupuk, yaitu mengkombinasikan limbah pertanian dengan pemanfaatan tekhnologi MA - 11", kata M.Ferizal Ka. BPTP Aceh, mengakhiri.

Kegiatan pelatihan dan tanam perdana tersebut dilaksanakan 17 April 2021, selain dihadiri Sekretaris Distanbun Aceh, Kepala Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, BPTP Aceh, Dinas Pendidikan dan Dayah Aceh, Badan Pemberdayaan Masyarakat Gampong Aceh, Maporina Aceh, Pengawas SMK Dinas Pendidikan Aceh, Dinas Pertanian Aceh Besar dan penemu MA 11 dari UGM (DR. Nugroho), juga Koordinator BPP Lembah Seulawah, unsur Muspika dan SMK PP N Kutacane serta Kelompok tani dan peternak.

Kegaiatan ini sejalan dengan salah satu program yang dicanangkan Gubernur Aceh melalui ACEH TROE yaitu menjaga pangan khususnya di Aceh tercukupi untuk 5.5 juta penduduk Aceh melalui program GAMPANG (Gerakan Mandiri Pangan).

TABLOID SINARTANI

 bi 1

bi 2

bi 3

bi 4

bi 5

bi 6

bi 7

bi 8

bi 9

 

Baca 1069 kali Terakhir diubah pada Sabtu, 03 Juli 2021 08:30
Burni

Mudahkanlah, jangan dipersulit!

Cari

Pengunjung

1680800
Hari ini
Minggu Lalu
Bulan lalu
Semua
277
1672775
33794
1680800

Your IP: 3.87.250.158
2022-01-24 06:07